TamI











{Maret 23, 2008}   SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KAKAO


Pada abad modern seperti saat ini hampir semua orang mengenal cokelat yang merupakan bahan makanan favorit, terutama bagi anak-anak dan remaja. Salah satu keunikan dan keunggulan makanan dari cokelat karena sifat cokelat yang dapat mencair dan meleleh pada suhu permukaan lidah. Bahan makanan dari cokelat juga mengandung gizi yang tinggi karena di dalamnya terdapat protein dan lemak serta unsur-unsur penting lainnya. Faktor pembahas utama konsumsi cokelat sehari-hari oleh masyarakat adalah harganya relatif tinggi dibandingkan dengan bahan makanan lainnya.

Produk cokelat yang umum dikenal masyarakat adalah permen cokelat (cocoa candy). Permen cokelat termasuk jenis makanan ringan yang jenisnya sangat beragam, dari permen yang bahan utamanya cokelat dan gula hingga permen yang bahan cokelatnya hanya sebagai pelapis permukaannya. Produk cokelat yang juga sangat populer adalah berbagai jenis makanan dan es krim (ice cream). Bubuk cokelat (cocoa powder) juga dapat digunakan sebagai bahan pembuat kue dan pengoles roti. Di samping itu, ada produk antara produk setengah jadi yang kurang dikenal masyarakat, yaitu lemak cokelat (cocoa butter) yang umumnya digunakan oleh industri farmasi dan industri kosmetika (biasa digunakan untuk bahan pembuat lipstik).

Produk cokelat dihasilkan melalui tahapan dan proses yang relatif panjang. Tanaman kakao, tanaman, buah, dan biji akan menghasilkan buah kakao yang di dalamnya terdapat biji-biji kakao. Dari biji-biji kakao ini, dengan perlakuan pasca panen, termasuk proses pengolahan dan pengeringan akan dihasilkan biji-biji kakao kering yang siap dikirim ke pabrik pengolah (prosesor). Oleh pengolah, biji kakao diolah menjadi produk-produk setengah jadi dan produk-produk sudah jadi.

Pada masa yang akan datang, komoditas biji kakao yang ada di Indonesia diharapkan akan memperoleh posisi yang sejajar dengan komoditas perkebunan lainnya seperti karet, kopi dan kelapa sawit, baik dalam luas areal maupun produksinya. Sumbangan nyata biji kakao terhadap perekonomian Indonesia dalam bentuk devisa dari ekspor biji kakao dan hasil industri kakao. Sumbangan lainnya adalah penyediaan bahan baku untuk industri dalam negeri, baik industri bahan makanan maupun industri kosmetika dan farmasi. Yang tidak kalah pentingnya dari munculnya industri kakao adalah tersedianya lapangan pekerjaan bagi jutaan penduduk Indonesia, dari tahap penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan, industri, dan pemasaran.

A.     Sejarah Tanaman Kakao

Beberapa literatur mengungkapkan bahwa tanaman kakao berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan di Amerika Selatan bagian utara. Penduduk yang pertama kali mengusahakannya sebagai bahan makanan dan minuman adalah suku Indian Maya dan suku Astek (Aztec). Mereka memanfaatkan kakao sebelum orang-orang kulit putih di bawah pimpinan Christopher Colombus menemukan Amerika. Suku Indian Maya adalah suku yang dulunya hidup di wilayah yang kini disebut sebagai Guatemala, Yucatan, dan Honduras (Amerika Tengah). Kedatangan suku Astek dari daerah utara kemudian menaklukkan suku Maya dan menguasai kebun-kebun kakao milik suku Maya. Mereka mulai belajar menanam serta mengolah kakao menjadi makanan dan minuman cokelat. Ketika bangsa Spanyol datang pada tahun 1591, suku Astek-lah yang mereka kenal sebagai penanam dan yang mengusahakan tanaman kakao (Soenaryo, 1978 ; Minifie, 1970).

Pada waktu itu, pengolahan biji kakao oleh orang-orang Indian dilakukan dengan cara menyimpan biji kakao dan mengeringkannya di bawah sinar matahari. Bij yang telah dikeringkan tersebut selanjutnya disangrai di dalam pot tanah, tetapi sebelumnya kulit bijinya dihilangkan dan digerus dengan lumpang batu. Adonan ini kemudian dicampur dengan jagung dan rempah dan dijadikan kue atau dodol. Untuk membuat minuman, secuil kue ini diaduk dengan air yang dapat juga ditambahkan dengan vanili. Campuran ini disebut dengan “chocolatl” (Chatt, 1953). Pada waktu itu biji kakao tidak hanya digunakan sebagai minuman, tetapi juga digunakan sebagai alat barter, pembayaran upeti, juga digunakan dalam kegiatan upacara keagamaan dan pengobatan (Wood, 1975).

Bangsa Spanyol pada saat itu tidak menyukai cokelat hasil olahan suku Astek. Mereka mulai mencari cara pengolahan sendiri dengan menyangrai biji kakao, kemudian menumbuknya dan menambahkan gula tebu. Ternyata hasil pengolahan dengan cara seperti ini lebih cocok dengan selera mereka. Karena itu, pada akhirnya bangsa Spanyol memperkenalkan gula tebu ke Meksiko pada tahun 1522 – 1524. Orang – orang Spanyol juga tercatat sebagai penanam pertama kakao di Trinidad pada tahun 1525.

Di samping bangsa Spanyol, bangsa Belanda juga tercatat sebagai perintis penanam kakao di Asia (Urquhart, 1961). Pengenalan pertama kakao kepada orang-orang Eropa terjadi pada tahun 1528. Orang – orang Spanyol membawa pulang beberapa kakao yang sudah mereka olah dan mereka persembahkan kepada Raja Charles V. Karena rasanya yang sangat lezat, cokelat menjadi terkenal di Spanyol sebagai makanan dan minuman yang baru. Pada awal tahun 1550, pengenalan kakao semakin meluas hingga ke seluruh daratan Eropa. Beberapa pabrik cokelat telah berdiri, seperti di Lisbon (Portugal), Genoa, Turin (Italia), dan Marseilles (Prancis). Selanjutnya, perdagangan biji kakao antara Amerika dan Eropa berkembang pesat (van Hall, 1932). Kakao semakin terkenal setelah ditemukannya cara dan alat untuk mengekstrak biji kakao menjadi lemak kakao (cocoa butter)dan bubuk cokelat (cocoa powder) oleh C.J. Van Houten sekitar tahun 1828 di Belanda. Setelah tahun 1878 cara membuat susu cokelat ditemukan oleh M. Daniel Peter di Swiss.

Di Indonesia, tanaman kakao diperkenalkan oleh orang Spanyol pada tahun 1560 di Minahasa, Sulawesi Utara. Ekspor dari pelabuhan Manado ke Manila tahun 1825 hingga 1838 sebanyak 92 ton. Nilai ekspor tersebut dikabarkan menurun karena adanya serangan hama pada tanaman kakao. Tahun 1919 Indonesia masih mampu mengekspor sampai 30 ton, tetapi setelah tahun 1928 ternyata ekspor tersebut terhenti (van Hall, 1932).

Menurut van Hall, pada tahun 1859 sudah terdapat 10.000 – 12.000 tanaman kakao di Ambon. Dari pohon sebanyak itu dihasilkan 11,6 ton kakao. Namun, kemudian tanamannya hilang tanpa ada informasi lebih lanjut. Sekitar tahun 1880, beberapa perkebunan kopi di Jawa Tengah milik orang-orang Belanda mulia melakukan  percobaan menanam kakao yang kemudian disusul perkebunan di Jawa Timur karena pada saat itu kopi Arabika mengalami kerusakan akibat terserang penyakit karat daun (Hemileia vastatrix).

Pada tahun 1888 oleh Henri D. MacGilavry yang mengenal sifat-sifat baik kakao Venezuela terutama mengenai mutunya, didatangkan puluhan semaian baru dari Venezuela. Namun, sangat disayangkan karena yang bertahan hidup hanya satu pohon. Pada saat tanaman kakao tersebut mulai menghasilkan ternyata buahnya kecil-kecil, bijinya gepeng, dan warna kotiledonnya ungu, tetapi setelah biji-biji yang dihasilkan tersebut ditanam kembali, ternyata dapat menghasilkan tanaman yang sehat, buah dan bijinya besar, serta tidak disukai hama penggerek buah kakao (kakao mot) dan Helopeltis. Dari pohon-pohon yang baik tersebut dipilih beberapa pohon sebagai pohon induk dan dikembangkan secara klonal. Upaya ini dilakukan di Perkebunan Djati Runggo (dekat Salatiga, Jawa Tengah), sehingga klon-klon yang dihasilkan diberi nama DR atau kependekan dari Djati Runggo. Berkat penemuan klon-klon DR (DR 1, DR 2, dan DR 3) ini perkebunan kakao ini dapat bertahan, bahkan selain di Jawa Tengah berkembang juga perkebunan kakao di Jawa Timur dan Sumatera.

B.     Perkembangan Produksi dan Konsumsi Kakao Dunia

1.      Perkembangan Produksi

Tanaman kakao berasal dari hutan hujan tropis di Amerika Tengah dan bagian utara Amerika Selatan. Jadi, wajar saja jika pada tahap awal dominasi produksi dikuasai oleh Amerika Selatan. Pada tabel 1 dapat dilihat perkembangan produksi kakao di negara-negara penghasil kakao pada tahun 1830 – 2000.

Tabel 1. Perkembangan produksi kakao di beberapa negara tahun 1830 – 2000.

Negara

Produksi (000 ton)

1830

1850

1900

1950

1970

2000

Ekuador

Venezuela

Brasil

Trinidad

Sao Tome

Ghana

Nigeria

Pantai Gading

Kamerun

Indonesia

Total

4,9

4,4

2,9

0,8

-

-

-

-

-

-

13

5,5

5,4

3,5

1,7

-

-

-

-

-

-

18

23

9

18

12

17

1

-

-

1

-

115

32

17

153

9

8

262

110

56

47

-

805

60

18

179

4

10

386

303

177

110

-

1.481

78

-

130

-

-

447

157

1.252

117

419

2.600

Sebelum periode 1919 / 1920, produksi dunia didominasi oleh Amerika Selatan dengan produsen utamanya Ekuador dan Brasil. Namun pada periode 1920 / 21 hingga sekarang, produksi kakao dunia telah bergeser dari Amerika Selatan ke Afrika dengan andil 50 – 70%. Sampai periode 1976 / 1977 produsen utama kakao dunia adalah Ghana. Setelah itu, posisinya digantikan oleh Pantai Gading (Ivory Coast).

Pada Tabel 1 tampak jelas bahwa Pantai Gading saat ini masih sebagai penghasil utama kakao dunia dengan produksi 1.250 ribu ton, berada jauh di atas produksi negara-negara lain. Sementara itu, peringkat kedua dan ketiga diperebutkan oleh Indonesia dan Ghana (Afrika).

2.      Perkembangan Konsumsi Kakao Dunia

Perkembangan konsumsi kakao dunia ditinjau dari jumlah pengolahan biji kakao (grinding cocoa) selama periode 1900 – 2000 dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Konsumsi biji kakao dunia tahun 1900 – 2000

Tahun

Konsumsi (000 ton)

1900

1910

1920

1930

1940

1950

1960

1970

1980

1990

2000

103

206

382

495

711

793

941

1.357

1.573

2.207

2.965

Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa konsumsi biji kakao sejak tahun 1900 cenderung meningkat dengan rata-rata peningkatan 3,9% per tahun. Seandainya tingkat kesejahteraan sebagian besar penduduk dunia meningkat, apalagi jika harga produk jadi (cokelat) lebih murah, konsumsi kakao dunia diprediksi akan meningkat.

C.     Perkembangan Produksi dan Luas Areal Kakao Indonesia

Pada Tabel 3 dapat dilihat perkembangan produksi kakao Indonesia periode 1990 – 2002. tabel tersebut menunjukkan bahwa perkebunan rakyat pada tahun-tahun terakhir ini paling dominan, dengan andil produksi sekitar 50,47%. Sementara itu, kontribusi perkebunan besar negara dan perkebunan swasta masing-masing 37,30% dan 12,23%. Peningkatan produksi oleh perkebunan negara relatif stabil, hal ini karena didukung oleh lembaga-lembaga penelitian perkebunan.

Kakao Indonesia mengalami perkembangan cukup pesat. Tahun 1969 – 1970, produksi kakao Indonesia hanya sekitar satu ton atau peringkat ke-29 dunia (FAO, 1972), kemudian meningkat menjadi sekitar 16 ton atau peringkat ke-16 dunia pada tahun 1980 – 1981.

Mutu kakao rakyat ternyata cukup rendah, padahal bila dilihat dari segi jumlah adalah yang terbesar, sehingga masalah mutu kakao pun menjadi faktor paling menonjol dan menjadi kendala utama dalam skala nasional.

Menurut status pengusahaannya, perkebunan kakao di Indonesia dibagi menjadi tiga, yaitu perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan besar swasta. Pada tahun 2000 perkebunan rakyat memiliki jumlah area terbesar, yaitu 86% dari total area perkebunan kakao di Indonesia, kemudian diikuti oleh perkebunan besar negara 7%, dan perkebunan besar swasta 7%. Tabel 3 menunjukkan perkembangan luas area kakao periode 1990 – 2002.

Tabel 3. Perkembangan luas area dan produksi kakao Indonesia tahun 1990 – 2002

Tahun

Luas Area (Ha)

Produksi (ton)

PR

PBN

PBS

Jumlah

PR

PBN

PBS

Jumlah

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

252.237

299.998

351.911

376.636

415.522

428.614

488.815

380.811

436.567

534.670

641.133

656.617

668.116

57.600

64.406

62.437

65.525

69.760

66.021

63.025

62.455

58.261

59.990

52.690

52.690

52.690

47.653

79.658

81.658

93.124

111.729

107.484

103.491

85.791

77.716

73.055

56.094

56.094

56.094

357.490

444.062

496.006

535.285

597.011

602.119

655.331

529.057

572.553

667.715

749.917

765.401

776.900

97.418

119.284

145.563

187.529

198.001

231.992

304.013

263.846

369.887

304.549

363.628

370.099

374.960

27.016

35.463

35.993

40.638

42.082

40.933

36.456

35.644

46.307

37.064

34.790

35.100

35.256

19.913

20.152

25.591

29.892

29.894

31.941

33.530

30.729

32.733

25.862

22.724

23.065

23.195

142.347

174.899

207.147

258.059

269.981

304.866

373.999

330.219

448.927

367.475

421.142

428.264

433.411

D.    Perkembangan Harga

Harga kakao merupakan aspek yang kompleks, karena banyak faktor yang saling memengaruhi terbentuknya harga. Selama ini, faktor pasokan (supply) kakao relatif paling berpengaruh terhadap terbentuknya tingkat harga di samping faktor permintaan (demand). Penyebabnya, beberapa kontrak pembelian, pengiriman dan tingkat harga sudah disetujui selama 1 tahun yang akan datang sehingga jika pada tahun yang bersangkutan mengalami penurunan akibat faktor iklim, hama, penyakit, atau pergolakan politik, eksportir akan panik jika tidak mampu memenuhi volume kontraknya.

Cara yang paling mudah untuk memperkirakan tingkat harga yang akan terjadi pada tahun mendatang adalah berdasarkan data stok kakao pada akhir tahun kakao. Umumnya, jumlah stok yang melimpah akan menekan harga (eksportir merasa aman karena cadangan cukup). Demikian juga jika jumlah stok terbatas, harga cenderung terdorong naik.

Untuk jangkan panjang, produksi kakao dunia diramalkan akan terus meningkat karena negara-negara produsen utama kakao cenderung terus memperluas area kakaonya. Dalam kondisi seperti di atas, konsumen sebagai penentu harga akan memilih kakao bermutu tinggi dengan harga murah.

About these ads


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: